Love is...

HAPPINESS - WONDER - ILLUSION - PAIN - DREAM - LIFE - EVERYTHING - DRUG - HOPE - JUST WORD - NOTHING

Monday, April 26, 2010

♥ 12.12.09 ♥

Teng… teng… teng…

”Hufftt.... akhirnya datang juga nih kereta,” keluh Tata. Suara lonceng tanda peringatan kereta segera datang, memecah lamunannya. Sembari melihat arloji dengan kombinasi warna emas dan perak bertuliskan Casio yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Tata beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet. Sudah tak terhitung berapa kali dia bolak balik dari toilet. Hingga penjaga toiletnya pun merasa gak asing melihat sosok gadis rambut panjang, lurus sedikit acak-acakan, dengan wajah putih bonus lesung pipi yang selalu menghiasi senyumannya.

Waktu menunjukkan pukul 20.15 WIB. Perlahan kereta Gaya Baru Malang jurusan Jakarta – Surabaya via jalur selatan, mulai memasuki stasiun Purwokerto. Semua penumpang yang sedari tadi dengan sabar menunggu, sudah bergegas mempersiapkan diri mereka masing-masing, tak terkecuali Tata, Tara dan Sari yang sudah hampir 2 jam duduk manis di bangku stasiun yang panjang. Mereka memasuki kereta. Gerbong terdepan sudah terlewati, mereka terus berjalan. Menyusuri tiap-tiap gerbong, mencari tempat duduk yang masih kosong.

”Wahh.. kayaknya kita gak dapat tempat duduk neh,” Sari menyenggol lengan Tara, sambil memasang mata menyelusuri setiap sisi sudut di lorong gerbong kereta terakhir yang mereka jelajahi.

”Benar-benar gak ada yang kosong neh, penuh.”

”Awas mbak... jangan berdiri ditengah, ini buat jalan,” suara mas-mas yang sontak memecah pandangan Sari.

”Maaf, mas..,” Sari pun dengan segera mencari sela-sela tempat untuk dia dan kedua sahabatnya berdiri tanpa mengganggu orang disekitarnya.

”Duhhh.. terus gimana nih, masak kita berdiri terus?” dahi Tata sudah memproduksi beberapa guratan garis halus, dikombinasikan dengan bentuk bibir yang mulai memanjang kedepan.

”Sementara kita berdiri di sini dulu ya?” ujar Sari sambil meyakinkan Tata, kalau mereka gak akan berdiri selamanya.

”Nanti juga kita dapat tempat duduk koq, sabar ya....Ta,” Tara pun melanjutkan omongan Sari.

”Ya udahlah,” jawab Tata pasrah dengan keadaan yang ada.

Tara hanya tersenyum simpul. Bagi Tara ini merupakan kali pertama pengalamannya naik kereta, sedangkan Tata baru sekali ini merasakan suasana kereta super ekonomi. Hanya Sari yang terlihat santai, melihat keadaan gerbong yang penuh dengan kumpulan orang dari berbagai asal dan tujuan. Berbagai ras dan keturunan hingga berbagai spesies dan golongan. Dicampur dengan berbagai aroma yang semerbak. Gerbong saat itu panas sekali. Di sekitar mereka udah banyak penumpang dengan tampang kepanasan. Mereka berkipas-kipas. Nenek tua dengan kerudung kotor transparan seadanya, bapak setengah baya dengan anak kecilnya yang menangis, ibu muda yang sedang menyusui bayinya, bapak tua dengan batik lusuh dan peci.

“Kenapa sih gak naik Argo aja?”

“Kita kan udah pernah ngerasain naik kereta bagus, sekarang rasain juga dong kereta super ekonomi kayak gini. Pertualangan dong, apalagi bisa bareng-bareng, asik banget. Terus ntar jadi ada ceritanya deh,” Sari menjawab pertanyaan Tata.

Di dalam hati Sari, dia sangat senang bisa ngerjain kedua sahabatnya. Sengaja dia membeli tiket ekonomi, jurusan Surabaya yang melewati Jogja. Kereta mulai melaju cepat, meninggalkan kota yang khas dengan mendoannya. Angin segar pun mulai terasa, mengurangi tekanan suhu panas yang terasa dalam gerbong kereta. Mereka memandang lurus kedepan. Tara yang dari tadi diam tanpa suara, mencoba menikmati suasana di gerbong ini. Guncangan kereta yang tidak terlalu keras, tidak bisa melepaskan earphone yang selalu menempel dikedua daun telinganya, mengalun Unbeliveble’nya - Craig David.

Always said I would know where to find love,

Always thought I'd be ready and strong enough,

But some times I just felt I could give up.

But you came and changed my whole world now,

I'm somewhere I've never been before.

Now I see, what love means.....

Meskipun lagu itu terdengar lirih, tapi telinga Tata dan Sari masih bisa menangkap sinyal dengan baik. Mulut mereka pun bergerak seirama, mengikuti alunan musik yang sayup-sayup terdengar dari balik headset Tara. Sejenak suasana gerbong kereta saat itu menjadi nyaman dan tenang.

.....

It's so unbelievable,

And I don't want to let it go,

Something so beautiful,

Flowing down like a waterfall.

I feel like you've always been,

Forever a part of me.

And it's so unbelievable to finally be in love,

Some where I'd never thought I'd be….

In my heart, in my head, it's so clear now,

Hold my hand you've got nothing to fear now,

I was lost and you've rescued me some how-.

I'm alive, I'm in love you complete me,

And I've never been here before.

Now I see, what love means.

……

When I think of what I have, and this chance I nearly lost,

I cant help but break down, and cry.

Ohh yeah, breakdown and cry.

Satu jam lima belas menit. Masih dengan posisi yang sama, belum beranjak dari tempat mereka berdiri. Angin malam menerobos masuk, melalui sela-sela jendela kereta. Setidaknya dapat mengurangi aroma khas yang mendominasi dalam gerbong kereta ini. Suara pekak sambungan antar gerbong sesekali memenuhi telinga mereka.

”Duduk sini mbak, bentar lagi saya turun kok,” sebuah tangan menepuk pelan dari arah belakang bahu Sari.

”Ohya pak... makasih,”

Monggo, mbak...,” (silahkan, mbak...) imbuh seorang bapak dengan logat khas jawanya mempersilahkan Sari, Tata dan Tara duduk. Bapak itu tampak sibuk mempersiapkan diri dan membereskan barang-barang bawaanya. Seorang wanita dengan selendang kain dibahunya ikut beranjak bersama dengan Bapak itu, lebih tepatnya istri.

Lendang dibahunya menyelimuti hampir seluruh tubuh putri kecil yang tertidur lelap. Sambil merapikan gendongan putrinya, dia membantu suaminya untuk membawa sebagian barang bawaanya.

“Pak, aku bawa yang ini ya?” kata wanita itu pelan kepada suaminya. Tangannya meraih sebuah bungkusan kecil plastik berwarna hitam. Perlahan kereta berhenti. Bapak dan istrinya itu beranjak meninggalkan kursi dan memberikan senyum ke tiga makhluk Tuhan yang pualing sexi.

Begitu kursi itu terlihat kosong tak bertuan, Tata langsung menempelkan pantatnya dikursi. Ukuran tidak terlalu panjang dengan busa tipis berselimut kain tipis konon katanya berbahan anti air berwarna hijau tua dan terlihat begitu kusam. Beberapa lubang kecil terlihat hingga busa warna kuning pucat menyembul keluar dari balik cover warna hijau.

Suara-suara penjual nasi pecel, telur asin, nasi goreng, ayam goreng, telur goreng, aneka macam gorengan dan minuman, membuat suasana gerbong itu makin rame. Sejenak kereta ini berhenti, menurunkan dan menaikkan beberapa penumpang.

“Dimana neh?” tanya Tara sambil merapikan dan mengikat rambutnya.

“Stasiun Karanganyar,” jawab Sari, setelah menemukan tulisan besar yang terpampang sangat jelas di tembok stasiun.

“Masih berapa lagi nih, kita sampe di Jogja?”

“Mungkin 2 jam lagi,”

“Hmmm...,”

“Ada yang mau nasi pecel gak?” Sari menawarkan kepada Tara dan Tata, seraya menunjuk seorang ibu dengan pakaian kebaya lusuh, mengusung gendongan nasi pecel.

Tara dan Tata serentak melihat Sari dan beralih pandangan ke arah tangan Sari menunjuk. Kepala mereka pun secara bersamaan mengangguk tanda setuju.

“Tapi separo aja, Sa” ujar Tata yang kembali sibuk dengan handphone’nya.

“Bu..,” panggil Sari dengan melambaikan tanggannya, ke arah ibu penjual nasi pecel. Tanpa hitungan menit, Ibu itu langsung menghampiri Sari.

“Nasi pecel, Nak” sembari melepaskan ikatan gendongannya, ibu itu bicara dengan Sari.

“Iya... berapaan bu?”

“Dua ribu,”

“Pake nasi gak?”

“Boleh, tapi separo aja ya bu. Pedes,”

Sambil melihat sang ibu yang sedang menyiapkan nasi, Sari mencari lauk yang sesuai untuk makan malam mereka di kereta.

“Bu, tambah telur dadar’nya jadi berapa?” tanya Sari.

“Dua setengah,”

Sari pun merogoh kantong jeans abu-abu’nya dan menemukan selembar lima ribuan. Lalu menyerahkannya ke ibu penjual nasi pecel itu.

“Dibungkusin dua ya, bu?”

“Iya Nak,”

Tak berapa lama, ibu itu menyerahkan dua bungkus pincuk nasi pecel lauk telur dadar bonus sendok plastik tipis berwarna biru.

“Makasih ya, bu” Sari dan Tara langsung menerimanya.

“Iya Nak,” jawab Ibu penjual nasi pecel itu juga bergegas merapikan gendongannya. Dan melanjutkan berkeliling menawarkan dagangannya. Mereka ber-tiga pun menyantap menu makan malamnya di kereta.

***

23.20 WIB – Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta.

Suasana stasiun begitu lengang, malam makin larut. Tata, Tara dan Sari turun dari kereta, menginjakkan kaki di ubin putih yang mulai kekuningan di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Hawa dingin menimpa wajah mereka, begitu segar. Serasa terlepas dari kepenatan di dalam gerbong kereta yang bertekanan tinggi.

”Sampai juga di Jogja,” Tara berkata pelan sambil memandang jam tua di tembok stasiun yang mulai pudar termakan usia.

Mereka berjalan menuju pintu keluar stasiun, pandangan mereka tertuju diantara para pedagang yang masih mencari rezeki di malam hari. Beberapa orang menawarkan jasa untuk mengantar mereka sampai ketempat tujuan. Mereka mengangkat telapak tangan dan menggelengkan kepala pelan.

”Hai, Ta..,” suara itu muncul dari balik pintu keluar stasiun. Sosok Dawiyah berbody super tapi sexi banget itu melambaikan tangannya ke arah Tata, Tara dan Sari.

”Reni, hei... udah dari tadi ya?”

”Ga kok, barusan nyampe..,”

”Ni Reni, ni Tara dan ini Sari” Tata memperkenalkan ke-dua sahabatnya kepada Reni, sepupu Tata yang pualing baek banget plus gokil’nya gak ketulungan.

Tanpa perintah dan aba-aba, mereka pun saling berjabat tangan, cipika-cipiki dan melempar senyum termanisnya masing-masing.

”Yukkk... pulang!!! Cape neh,” Tata berujar sambil meraih tangan Reni.

”Oke deh,”

Mereka ber-empat, menuju pintu keluar stasiun. Suara alarm yang terdengar dari arah sebuah Jazz biru metalik, terparkir rapi dipinggir jalan sejajar dengan tukang becak yang sedang mangkal menunggu calon penumpang. Mereka pun segera masuk mobil, menempatkan diri lalu memasang seatbelt cover tazmania. Reni memegang kendali stir mobil. Tangannya menggeser porseneling, kakinya mulai bermain dengan gas dan mobilnya pun melaju perlahan meninggalkan stasiun Lempuyangan.

Kedua jarum arloji yang melingkar ditangan kanan Tara, menunjuk waktu setengah dua belas malam. Mobil menyusuri sepanjang jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo suasana begitu sepi. Lampu jalan yang bersinar redup membuat suasana menjadi teduh. Mobil terus melaju menembus keheningan malam sepanjang jalan Prof. Herman Yohanes dan terhenti di traffic light. Dari balik kaca mobil, terlihat seorang lelaki separuh baya duduk bersandar di tembok pinggir jalan dengan pakaian tipis dan tas kain yang ada dalam dekapannya, seolah ingin sejenak melepas lelah. Tak berapa lama kemudian, traffic light berganti hijau. Kaki Reni kembali menekan gas secara perlahan, tangannya mematikan AC mobil, dan memencet power window. Angin malam, menarik lembut helai demi helai rambut Sari yang bergerak bersama, melawan laju mobil. Roda mobil mengarah kesepanjang Terban, melewati bunderan kampus UGM. Begitu sepi. Jarang sekali bisa menikmati kota Jogja setenang ini, jauh dari keramaian. Terlihat penjual angkringan dengan gerobak kayunya. Kursi kayu panjang, dengan terpal plastik. Lampu teplok minyak, remang-remang menerangi dagangan yang tertata rapi ditiap nampannya. Beberapa bungkusan berwarna coklat muda, yang bertuliskan aneka menu makanan. Ada juga bermacam camilan dan gorengan. Segala minuman pun ditawarkan. Tungku dengan bahan bakar arang, digunakan untuk menyediakan mi rebus atau sekedar membuat minuman panas. Sekelompok orang dalam satu forum pembicaran, dengan santai membahas sesuatu yang cukup menarik hingga tertawa lepas, memecah keheningan disekitarnya. Ada juga yang duduk bersila, memandang jauh ke atas, tanpa tujuan. Menikmati secangkir kopi hitam ditemani sebatang rokok ditangannya yang makin memendek. Pandangannya begitu kosong.

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama, suasana Jogja…

Syair Yogyakartanya – Kla Project, seakan mengiringi perjalanan Sari dan kedua sahabatnya, menyusuri sepanjang jalan di Jogja.

Dipersimpangan langkahku terhenti

Ramai kaki lima

Menjajakan sajian khas berselera

Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi

Seiring laraku kehilanganmu

Merintih sendiri

Ditelan deru kotamu…

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali

Namun kotamu hadirkan senyummu abadi

Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati….

“Udah makan belum?” pertanyaan Reni, memecahkan keheningan.

Tata menoleh ke belakang, melihat kedua sahabatnya yang menggelengkan kepala bersamaan. “Udah koq, Ren” jawab Tata, skaligus mewakili kedua sabahabatnya.

“Ooo.. tapi kalo makan jagung bakar, mau ya?” tawar Reni setengah maksa.

Tata, Tara dan Sari memberikan senyuman dibibir tipis dan panjang.

Reni pun mengarahkan mobilnya ke salah satu penjual jagung bakar di pinggir jalan. Mobil berhenti tepat di depan seorang anak yang tengah sibuk mengipas-ngipas jagung yang hampir matang di atas api arang. Mereka ber-empat pun turun dari mobil.

Monggo mbak, pinarak!!!” (mari mbak, silahkan duduk!!!) ucapan selamat datang dari seorang anak laki-laki dengan kipas bambu yang masih dalam genggamannya.

“Jagung bakar empat ya, Dek” pinta Reni.

“Pedes?”

“Hmmm... Iya,” jawab Reni, setelah melihat anggukan kepala Tata, Tara dan Sari.

“Minumnya apa, mbak?”

“Aku Teh anget aja,” suara Tata pelan, melihat ke arah Tara.

“Idem,”

“Idem,” Sari terakhir menjawab.

“Teh anget, empat ya Dek,” Reni mengambil kesimpulan, dan menunjukkan ke-empat jari tangan yang diperlihatkan ke anak laki-laki itu.

Anak laki-laki itu, kembali sibuk menyiapkan pesanan Reni. Mereka ber-empat pun merapikan duduknya masing-masing. Mencari posisi yang nyaman untuk mereka melepas lelah dan meluruskan kaki. Beberapa kendaraan melintas di jalan Kaliurang yang malam itu begitu lengang. Tata yang memakai sweater ijo berbahan tipis, membuatnya melipat kedua tangan ke dada. Bahunya sesekali naik turun, merasakan dinginnya angin malam. Tara tampak cuek, sedangkan Sari memperhatikan daerah sekelilingnya meski kadang tatapannya begitu kosong.

“Ni minumnya…,” Reni memberikan segelas teh hangat ke Tara, dan menggeser gelasnya hingga ke Tata.

“Hmmmm… hangatnya,” Tata berusaha menghangatkan tangannya, dengan memegang punggung gelas yang berisi penuh teh manis hangat.

“Srrrrruup…, mantab” kata Tara yang tampak nikmat menyeruput teh manisnya, lalu menoleh ke Sari. “Minum Sa, mumpung masih hangat,”

Sari mengangguk. Entah apa yang terlintas dalam benak Sari, Sari tak menyadari kalau Tara dari tadi mengawasinya. Jagung bakar pun, telah tersaji didepan mereka. Satu persatu jagung bakar itu sudah tak terlihat lagi dinampan saji. Sambil menyantap, Sari yang telah kembali dari dunia lamunannya ke dunia nyata, mulai bercerita tentang berbagai hal konyol yang selalu diselingi dengan gelak tawa. Tanpa disadari, sudah hampir jam satu pagi. Waktunya untuk istirahat. Reni pun segera melajukan mobil, menuju rumahnya.

1 comment: